8 April 2015

Hope it disappeared

Aku yang terdiam duduk dikursi kamar pojok. Mengingat kembali apa yang sudah terjadi kemarin antara aku dan dia. Disaat aku menjalankan semua, seperti tidak terjadi apa-apa, semua terjadi biasa saja. Tapi, setelah waktu merubah segalanya aku baru bisa menyadari. Ternyata, suatu kejadian yang sudah terjadi kemarin, sangat berarti bagi dia yang ditunjukkan untuk aku, tapi apa daya aku yang terlalu cuek atau terlalu gengsi dengan keadaan yang seperti ini, aku tidak menyadarinya sama sekali. Semua terasa biasa saja, ya biasa saja. Saat semua keadaan telah berubah, aku baru bisa merasakan arti yang  sesungguhnya.


Ya, untuk kali ini aku mengakui aku yang ada diposisi yang salah, aku yang terlalu bodoh atau terlalu memaksakan kehendak atau membuang kesempatan yang jelas-jelas udah mantap didepan mata. Dia sudah terlalu lelah dan lemah untuk mengeluarkan semua perasaan itu dengan memberikan kata-kata yang indah dan menampakkan sikap yang baik untuk mendapatkan apa yang dia mau dari aku. Dan sampai akhirnya dia pun sudah berada dititik kelelahan dan kelemahan untuk menunggu, memperjuangkan dan mempertahankan aku dan perasaannya, mungkin baginya, tidak ada lagi kesempatan untuk bertahan, dan waktu terbuang sia-sia untuk menunggu kata-kata 'indah' yang akan aku katakan kepada dia. Sudah cukup.

Dia sudah merasakan kesedihan dan kejenuhan, semua manusia yang sedang menunggu sesuatu hal, pasti akan berfikir 'sabar ada batasnya' dan kata-kata itu-lah yang sedang ada difikirannya sekarang dan dia percaya bahwa dia sudah lama melampaui batas itu dan sudah terlalu lama menunggu hal yang tak pasti. Sekarang, semua terasa hampa. Kosong. Bebas. Tidak ada yang bisa dirasakan sama sekali.


Aku diam sejenak, dan berfikir.
Kenapa harus begini? Kenapa harus terjadi?
Hanya satu kata yang aku ingat dari nya "Aku takut kehilangan kamu, aku gak akan mau pisah sama kamu!"
tetapi disisi lain aku juga pernah berfikir, akan tiba saatnya dimana kata2 manis itu tinggal kata tanpa arti dan hanya menjadi buaian semata yg tak pernah lepas di ingatanku.

Bagiku, ini semua terjadi hanya untuk orang-orang yang bisa memanfaatkan waktu. Aku adalah salah satu manusia yang tidak bisa memanfaatkan waktu. Disini, aku tidak bisa menyalahkan aku atau dia. Aku juga bersikap tidak egois. aku korbankan waktu yang aku bisa untuk dirinya. tapi dirinya gak pernah anggap itu sebagai pengorbananku. Seperti yang kubilang diatas tadi, dalam hal ini aku yang salah, aku sudah membuang waktu yang mungkin menurut orang lain adalah kesempatan untuk mendapatkan seseorang yang benar-benar memperjuangkan dirinya untuk mendapatkan seseorang yang dia cintai. Disisi lain, kalian tidak bisa menyalahkan aku, semua tergantung aku dan waktu. Aku yang belum bisa menyadari perasaan orang lain, dan waktu belum tepat untuk bisa membahagiakan aku. Bisa saja, bahagia dirinya bukan bersama ku. Mungkin apa yang udah dia berikan semua untuk aku terasa sia-sia, dan merasa tidak dihargai? Iya, aku adalah orang yang tidak pantas untuk dihargai, dan tidak pantas untuk diperjuangkan demi kebahagiaan seseorang. Sampai akhirnya dia pun memilih untuk menyerah dan mundur dari semua ini.

Perasaan itu sudah mulai tumbuh perlahan. Jauh setelah aku menyadarinya setelah waktu merubahnya bahkan setelah semuanya tidak seperti dimana awal bertemu. Tapi, dengan kesadaranku menyadari hal itu bukan berarti membuat segalanya jauh lebih baik dan lebih indah. Perasaan itu tidak mudah untuk dirubah, meskipun nantinya akan berubah dengan sendirinya. Perasaanku, dan juga perasaannya. Aku tidak tau dia masih menyimpan rasa seperti aku dan dia sejak pertama bertemu atau tidak? dan akupun tidak tau kenapa perasaanku tiba-tiba muncul saat semuanya hilang, pergi, dan berubah. Yang kutahu sekarang, perasaannya padaku tidak pernah ada lagi, dan tidak akan pernah bisa tumbuh lagi.

Sulit bagiku, haruskah aku mempertahankan ini semua? Sedangkan aku tidak tau apa yang dia rasakan saat ini. Haruskan aku menyimpan ke-pura-pura-an ku saat ini? Jujur sudah tidak ada artinya lagi baginya, karna kejujuran yang dia inginkan bukan saat ini, tapi yang dia inginkan dulu, dimana semuanya belum terasa beda. Dia sudah terlanjur lelah menunggu kepastian dariku, dan jawaban yang dia dapatkan sama sekali tidak membuatnya bahagia. Dia telah lelah menunggu dan tak mungkin bila semuanya kembali seperti semula. Saat ini aku hanya bisa menunggu hilangnya kenangan-kenangan itu, dan untuk memberitahu  bahwa aku masih mengingatnya. Sampai kapan harapan itu ada? Kapan harapan itu akan hilang? hanya untuk menyakinkan bahwa perasaanku tetap ada di hatiku meskipun baru sekarang bisa aku rasakan dalam waktu yang sangat sedikit, dan harapan itu mungkin takkan lagi ada. Dan kata "Aku takut kehilangan kamu" benar2 menjadi kata kosong tanpa arti. mungkin kebahagiaan tidak bisa aku raih untuk saat ini, dan saat ini aku hanya bisa berharap menghilangkan perasaan dan harapan. Seperti yang sudah-sudah perasaan ingin memiliki seseorang, lama kelamaan akan menghilang dengan sendirinya.
Karna, faktanya.... Perasaanku tiba-tiba muncul dengan waktu yang sangat singkat dan tidak pernah terfikirkan sebelumnya.

Seorang wanita memang pantas untuk diperjuangkan. Sekarang udah jamannya emansipasi wanita, sekarang wanita udah bebas mau berbuat apa aja, dengan hal lain memulai duluan. Tapi, sebagian wanita ingin dimulai bukan memulai duluan. Karna, wanita emang untuk dibutuhkan bukan membutuhkan. Wanita emang inginnya dimengerti, kebanyakan wanita hanya memikirkan dirinya sendiri itu karna menurutnya dia adalah sesuatu hal yang harus ia lakukan. Bukan pengennya dimengerti, tapi udah seharusnya ini semua dipahami.

Yang bisa aku lakukan saat ini, Aku hanya bisa menyerahkan semuanya pada yang maha esa, Allah SWT. Dia akan membantuku, menjawab semua do'a. Aku juga pasrah. Semoga Allah SWT akan memberikan Waktu yang tepat yang akan membantuku merubah untuk yang lebih baik, semoga Allah mendengar doaku.

8/04/2015

Love,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar